Selasa, 02 Oktober 2012

Konsep Dasar IPS

MAKALAH
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KONSEP DASAR IPS YANG KREATIF, INOVATIF, DAN MENYENANGKAN
Dosen Pembimbing :
Zufatah,S.pd,MM
“Kelompok  7
Muhammad Andrie
Raihan
Fahrunnisa
Syarif Hidayatullah
Sri Astuti
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Achmad Yani Banjarmasin
2012
Kata Pengantar
Puji syukur Tuhan Yang Maha Esa, berkat karunia dan hidayah-Nya sehingga makalah yang kami buat ini dapat di selesaikan dengan baik. Yakni mengenai materi yang telah kami dapatkan dalam tugas kelompok kami adalahKosep Dasar IPS”.
Kemudian kami ucapkan terima kasih kepada Bapak dosen “Konsep Dasar IPSZulafatah,S.Pd,MM  yang telah banyak memberikan berbagai macam bimbingan Sehingga kami telah menyelesaikan penyusunan makalah ini. Dan tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman sekalian yang sudah memberikan masukan dan semangat sehingga makalah ini telah selesai.
Tujuan utama penyusunan makalah ini adalah untuk membantu kita dalam mempelajari pokok pembahasan secara efisien dan efektif. Dengan demikian, Diharapkan agar kita memahami semua materi dengan baik dalam waktu relatif singkat. Meskipun masih banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini, namun kami berharap, makalah ini dapat mempermudah proses pembelajaran kita dan mengingatkan kita kembali kepada pengetahuan yang telah didapat selama proses pembelajaran.



                                          Banjarmasin, 24 September 2012








i
DAFTAR ISI

Kata Pengatar ................................................................................................................................................................   i
Daftar Isi ...........................................................................................................................................................................   ii
Bab I Pendahuluan
a.       Latar Belakang ......................................................................................................................................   1
b.      Batasan Masalah ..................................................................................................................................   1
c.       Tujuan Masalah ....................................................................................................................................   1
Bab II Isi
a.     Hakikat dan Perencanaan Model Pembelajaran Konsep Dasar Ips ....................   2
b.     Model-Model Pembelajaran Konsep Dasar Ips ................................................................   3
c.       Implementasi Model-Model Pembelajaran Konsep Dasar Ips ...............................   5
d.      Model Desain Pembelajaran Pengambilan Keputusan ................................................   6
Bab III Penutup
d.       Kesimpulan .............................................................................................................................................   9
e.        Daftar Pustaka ...................................................................................................................................... 10











ii
BAB I
 PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH
Pada dasarnya pemahaman anda akan membahas Model-Model Pembelajaran Konsep Dasar IPS yang Kreatif, Inovatif, dan Menyenangkan yaitu meliputi Hakikat dan perencanaan model pembelajaran konsep dasar Ips,  Model-model pembelajaran konsep dasar Ips, Implementasi model-model pembelajaran konsep dasar Ips,  dan Model desain pembelajaran pengambilan keputusan.
B.   BATASAN MASALAH
Dalam penulisan makalah ini, masalah dibatasi pada ruang lingkup pembahasan tentang Model-Model Pembelajaran Konsep Dasar IPS yang Kreatif, Inovatif, dan Menyenangkan yaitu meliputi Hakikat dan perencanaan model pembelajaran konsep dasar Ips,  Model-model pembelajaran konsep dasar Ips, Implementasi model-model pembelajaran konsep dasar Ips,  dan Model desain pembelajaran pengambilan keputusan.
C.    TUJUAN MASALAH
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk memenuhi tugas kelompok
2.      Menambah wawasan, baik bagi penulis maupun bagi pembaca maupun pendengar.



1
BAB II
A.               HAKIKAT DAN PERANAN MODEL PEMBELAJARAN KONSEP DASAR IPS
Secara umum, istilah “inquiry” berkaitan dengan masalah dan penelitian untuk menjawab suatu masalah. Rogers (1969), misalnya menyatakan bahwa inkuiri merupakan suatu proses untuk mengajukan pertanyaan dan mendorong semangat belajar para siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Welton dan Mallan (1988) membandingkan istilah “inquiry” dengan metode pemecahan masalah (problem solving) dan bahkan dengan hafalan/memori sebagai suatu perilaku dan proses.
Bayer (1971) menyatakan bahwa “inqury is one way of knowing” suatu cara untuk mengetahui.
Sejak zaman john Dewey (1859-1952) pemikiran untuk meningkatkan kualitas pengajaran telah menjadi obsesi. Inkuiri merupakan salah satu pendekatan yang saat ini digunakan oleh para pengembang kurikulum khususnya di sekolah-sekolah Australia dan Amerika Serikat sebagai suatu pendekatan dalam proses belajar mengajara di persekolahan.
Menurut para ahli, pendekatan inkuiri adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah kebosanan siswa daam belajar di kelas karena proses belajar lebih terpusat kepada siswa (student-centred instuction) dari pada kepada guru (Teacher-centred instuction).
Salah satu komponen kurikulum yang lebih banyak mendapat perhatian dan pengujian adalah metode pembelajaran. Hering (1971) Metode sebagai suatu pendekatan umum belajar yang berdasarkan hakikat dan tujuan pendidikan pada sejumlah teori dan kepercayaan. Wesley (1950) Bahwa guru yang baik haruslah memiliki metode yang baik, dan guru yang terbaik ditentukan oleh metode yang dikuasainya.
Banks (1990) mengemukakan pendekatan mengajar dalam IPS dengan menggunakan inkuiri sosial menghasilkan fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Namun, tujuan utama inkuiri sosial menurutnya adalah untuk membangun teori. Tujuan utama ingkuiri sosial adalah memberikan kontribusi untuk para pengambil kebijakan dalam menghasilkan keputusan-keputusannya.
2
Lankah-langkah model pembelajaran ingkuiri untuk kelas IPS yang dikemukakan Banks adalah sebagai berikut :
·         Pertama, Perumusan masalah (Problem Formulation).
·         Kedua, Perumusan Hipotesa (Formulation of Hypotheses).
·         Ketiga, Definisi Istilah: Konseptualisasi.
·         Keempat, Pengumpulan data (Collection of Data).
·         Kelima, Pengujian dan Analisi Data (Evaluation and Analysis of Data).
·         Keenam, Menguji Hipotesis untuk Memperoleh Generalisasi dan Teori.
·         Ketujuh, Memulai Ingkuiri Lagi.

B.               MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KONSEP DASAR IPS
Ada dua fokus model desain pembelajaran untuk keterampilan berpikir ialah keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan keterampilan berpikir kreatif (Creative thinking skill).
Jonhson (1992) merumuskan istilah “Berpikir Kritis” (critical thinking) secara etimologi. Kata Critic dan Critical berasal dari “Krinein” yang berarti “Menaksir nilai sesuatu”. Tugas orang berpikir kritis adalah menerapkan norma dan standar yang tepat terhadap suatu hasil dan mempertimbangkan nilainya dan mengartikulasikan pertimbangan tersebut.
Jonhson (1992) merangkum beberapa definisi critical thinking dari beberapa ahli, seperti Ennis (1987,1989), Lipman (1988), Siegel (1988), Paul (1989), dan McPeck (1981), yang disebut juga “the Group of Five”. Menyimpulkan ada tiga subsatansi dari kemampuan berpikir kritik.
·         Pertama, berpikir kritis memerlukan sejumlah kemampuan kognitif.
·         Kedua, berpikir kritis memerlukan sejumlah informasi dan pengetahuan.
·         Ketiga, berpikir kritis mencakup dimensi afektif yang semuanya menjelaskan dan menekankan secara berbeda-beda.
Tujuan berpikir kritis adalah untuk menilai suatu pemikiran, menaksir nilai bahkan mengevaluasi pelaksanaan atau praktik dari suatu pemikiran dan nilai tersebut. Selain itu, berpikir kritis meliputi aktivitas mempertimbangkan berdasarkan pada pendapat yang diketahui. Berpikir kritis mendorong muncunya pemikiran-pemkiran baru. Terkadang, pembelajaran berpikir kritis erat kaitannya dengan berpikir kreatif.



3
Apabila keterampilan berpikir kritis dilakukan maka sebagian dari pembelajaran berpikir kreatif telah dijalani karena tahap pertama untuk melakukan keterampilan berpikir kritis harus melalui keterampilan berpikir kreatif.
Brandt (1989) menyatakan bahwa pada saat ini belum banyak muncul kesadaran yang tinggi di kalangan pendidik di persekolahan untuk mengajar para siswa tentang kondisi dunia yang semakin berkembang pesat yang menuntut adanya respons dengan pemikiran secara kritis. Wilen (1995) memperkenalkan suatu pendekatan metacognitif dalam pengajaran berpikir kritis untuk studi sosial. Pendeketan metacognitif merupakan suatu cara alternatif untuk mengajar keterampilan berpikir kritis.Yaitu melalui penjelasan guru, membuat percontohan atau model oleh guru dan oleh para siswa.
Bayer (1985) mengaskan bahwa ada seperangkat keterampilan berpikir kritis yang dapat digunakan dalam studi sosial atau untuk pembelajaran disiplin ilmu-ilmu sosial. Keterampilan tersebut adalah :
1.    Membedakan antara fakta dan nilai dari suatu pendapat.
2.    Menentukan reliabilitas.
3.    Menentukan akurasi fakta dari suatu pernyataan.
4.    Membedakan informasi yang relavan dari yang tidak relavan.
5.    Mendeteksi penyimpangan.
6.    Mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakan.
7.    Mengidentifikasi tuntutan dan argumen yang tidak jelas atau samar-samar.
8.    Mengakui perbuatan yang keliru dan tidak konsisten.
9.    Membedakan antara pendapat yang tidak dan dapat dipertanggungjawabkan.
10.  Menentukan kekuatan argumen.
Menurut Bayer, strategi induktif merupakan cara untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam mengartikulasi atribut-atribut berpikir kritis yang telah diajarkan. Penerapan strategi ini mencakup lima langkah yang dapat ditempuh oleh guru :
1.    Memperkenalkan keterampilan dan kemudian siswa,
2.    Mencoba keterampilan sebaik mungkin,
3.    Menggambarkan serta mengartikulasikan apa yang terjadi dalam pikiran ketika menerapkan keterampilan tersebut,
4.    Menerapkan pengetahuan tentang keterampilan baru untuk menerapkan lagi dan akhirnya,
5.    Meninjau lagi apa yang terpikir ketika keterampilan itu diterapkan.



4
Bayer mengajukan sejumlah rekomendasi bahwa untuk menggunakan strategi ini, guru melakukan langkah-langkah berikut :
1.    Memperkenalkan keterampilan berpikir kritis.
2.    Menjelaskan prosedur dan aturan keterampilan.
3.    Menunjukkan bagaimana keterampilan itu digunakan dan kemudian siswa.
4.    Menerapkan keterampilan tersebut mengikuti langkah dan aturan yang jelas.
5.    Menggambarkan tentang apa yang terjadi dalam pikiran siswa ketika keterampilan itu diterapkan.
C.                IMPLEMENTASI MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KONSEP DASAR IPS
Pembelajaran problem solving merupakan alternatif model yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. Pembelajaran ini secara khusus memfokuskan pada pelatihan kemampuan dalam memecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah baik masalah pribadi maupun masalah sosial sangat diperlukan karena pada hakikatnya siswa hidup di tengah lingkungan masyarakat yang penuh dengan benih-benih munculnya masalah. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan-untuk mendewasakan siswa-maka salah satu indikator dewasa adalah kemampuan akan kemandirian sebagai warga masyarakat.
1.    Model Pembelajaran “Problem Solving”
Savage and Armstrong (1996) mengemukakan bahwa sejumlah masalah ada solusi terbaiknya secara benar dan tepat. Ada empat tahap pemecahan masalah menurut Savage and Armstrong sebagai berikut :
a.    Mengenal adanya masalah.
b.    Mempertimbangkan pendekatan-pendekatan untuk pemecahannya.
c.    Memilih dan menerapkan pendekatan-pendekatan tersebut.
d.    Mencapai solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.





5
Sedangkan Wilkins (1990) ada enam langkah model pembelajaran “problem solving” yaitu :
·         Pertama, Mengklarifikasi dan mengidentifikasi masalah.
·         Kedua, Mencari alternatif solusi.
·         Ketiga, Menguji alternatif solusi.
·         Keempat, Memilih solusi.
·         Kelima, Bertindak sesuai dengan pilihan solusi.
·         Keenam, Tindak lanjut (Follow-Up).
2.    Model “Problem Solving”, Inkuiri atau Model Pembelajaran Penemuan.
Persamaan dari ketiga model pembelajaran tersebut adalah semuanya mesyarakatkan adanya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar melalui proses penelitian, yakni meneliti hubungan antarsejumlah data atau informasi untuk tercapainya suatu solusi.
Sesuai dengan sifat ilmu-ilmu sosial yang objek pembahasannya adalah manusia yang memiliki sejumlah misteri maka prosedur untuk mengungkap rahasia yang berkaitan dengan makhluk ini pun sangat kompleks. Oleh karena itu, model pembelajaran “Problem Solving” dalam IPS ini sangatlah penting sehingga perlu sosialisasikan kepada semua siswa yang akan menhadapi masa depan yang penuh tantangan dan masalah sosial yang semakin kompleks.
D.              MODEL DESAIN PEMBELAJARAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.    Model Pembelajaran Pengambilan Keputusan
Makna konsep “Pengambilan Keputusan” (decision-making) berkaitan dengan kemampuan berpikir tentang alternatif pilihan yang tersedia, menimbang fakta dan bukti yang ada, mempertimbangkan tentang nilai pribadi dan masyarakat.
Ada perbedaan antara model pembelajaran ingkuiri dan model pembelajaran pemngambilan keputusan. Banks (1990) menyatakan bahwa tujuan dasar dari inkuiri sosial adalah sosial adalah untuk menghasilkan pengetahuan dalam bentuk fakta, konsep, generalisasi dan teori. Tujuannya untuk mengakumulasikan pengetahuan sebanyak mungkin.




6
Banks mengatakan bahwa kemampuan seseorang dalam pengambailan keputusan tidaklah muncul dengan sendirinya. Pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan yang harus dibina dan dilatihkan.
Savage and Armstrong (1996) mengemukakan langkah-langkah proses pembelajaran pengambilan keputusan sebagai alternatif model pembelajaran dalam IPS sebagai berikut :
1.    Mengidentifikasi persoalan dasar atau masalah.
2.    Mengemukakan jawaban-jawaban alternatif.
3.    Menggambarkan bukti yang mendukung setiap alternatif.
4.    Mengidentifikasi nilai-nilai yang dinyatakan dalam setiap alternatif.
5.    Menggambarkan kemungkinan akibat setiap pilihan alternatif.
6.    Membuat pilihan dari berbagai alternatif.
7.    Menggambarkan bukti dan nilai yang dipertimbangkan dalam membuat pilihan.
Banks (1990) mengemukakan pula urutan langkah atau prosedur dalam pengembangan keterampilan pengambilan keputusan dengan komponen esensial sebagai syaratnya. Ada dua syarat yaitu :
a.    Pengetahuan sosial
b.    Metode atau cara mencapai pengetahuan.
Proses pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan manakala pengetahuan orang tentang masalah terkait tidak ada (vacuum). Pengetahuan sosial merupakan komponen yang sangat penting bagi tercapainya pengambilan keputusan yang logis. Kerlinger menyimpulkan bahwa ada empat metode untuk memperoleh pengetahuan ialah :
a.    Berpegang pada apa yang telah diketahui kebenarannya (method of tenacity).
b.    Mencari informasi untuk mempercayai (method of authority).
c.    Mengetahui sesuatu karena telah disepakati kebenarannya (a priori method).
d.    Metode ilmiah (method of science).


7
Menurut Banks, ada beberapa syarat metode dalam memperoleh pengetahuan, antara lain apabila orang menggunakan metode tersebut secara berulang-ulang maka hasil yang diperoleh adalah sama. Melalui metode ini orang dapat memperoleh pengetahuan yang meliputi : fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Langkah-langkah yang dianjurkan dalam melakukan proses pengambilan keputusan secara sekuinsial, sebagai berikut :
·         Mengenal masalah yang perlu diambil keputusan.
·         Perolehan pengetahuan melalui inkuiri ilmu sosial.
·         Mengorganisir masalah dan pengetahuan untuk bahan pembelajaran.
·         Inkuiri nilai.
·         Pengambilan keputusan dan tindakan untuk warga negara.
·         Menentukan urutan tindakan.
·         Memberi kesempatan kepada warga negara untuk bertindak dan berpartisipasi (di lingkungan masyarakat dan sekolah).
           

















8
BAB III
Penutup
Kesimpulan
·         Secara umum, istilah “inquiry” berkaitan dengan masalah dan penelitian untuk menjawab suatu masalah. Rogers (1969), misalnya menyatakan bahwa inkuiri merupakan suatu proses untuk mengajukan pertanyaan dan mendorong semangat belajar para siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
·         Ada dua fokus model desain pembelajaran untuk keterampilan berpikir ialah keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan keterampilan berpikir kreatif (Creative thinking skill).
·         Pembelajaran problem solving merupakan alternatif model yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. Pembelajaran ini secara khusus memfokuskan pada pelatihan kemampuan dalam memecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah baik masalah pribadi maupun masalah sosial sangat diperlukan karena pada hakikatnya siswa hidup di tengah lingkungan masyarakat yang penuh dengan benih-benih munculnya masalah.
·         Makna konsep “Pengambilan Keputusan” (decision-making) berkaitan dengan kemampuan berpikir tentang alternatif pilihan yang tersedia, menimbang fakta dan bukti yang ada, mempertimbangkan tentang nilai pribadi dan masyarakat.
·         Ada perbedaan antara model pembelajaran ingkuiri dan model pembelajaran pemngambilan keputusan. Banks (1990) menyatakan bahwa tujuan dasar dari inkuiri sosial adalah sosial adalah untuk menghasilkan pengetahuan dalam bentuk fakta, konsep, generalisasi dan teori. Tujuannya untuk mengakumulasikan pengetahuan sebanyak mungkin.





9
Dafatar Pustaka
Berliner, David C and Calfee, Robert. Handbook of Educational Psychology. A Project of Division 15, The Division of Educational Psycology of the American Psychological Association.
Beaty, Janice, J (1994). Observing Development of Young Child. Columbus, Ohia: Merril Inc.
Collins, Gillian, Hazen Dixon. (1991). Intergrated Learning. Planned Curriculum Unit, Australia: Book Shelf Publishing.
Fogarty, robin. (1991). How to Intergrate the Curricula. America: Skylight Publishing, Inc.
McCracken Carpenter. (1971). Skill Development in School Studies. Washington D.C.: National Council for the Social Studies.
Pappas, Cristine C., Barbara Z Keifer, Linda S Levstik. (1990). Intergrated Language Perspective, in The Elementary School. USA: Longman Publishers.
Woolfolk, Anita E. (1998). Educational Psychology. Allyn and Bacon.
Seifert & Hoffnung. (1991). Child and Adolescent Development. Buton: Houghton Mifflin Company.
NCSS, (1971). Charting Acourse: Social Studies. Washington: Expentation of Excelinence.
NCSS, (1994). Curiculum Standars for Social Studies. Washington.
Somantri (2001). Masalah Pendidikan Ilmu Sosial (PIPS). PIPS Pasca Sarjana IKIP sebagai Syntactic Disscipline. Bandung: Lembaga Penelitian IKIP Bandung.
Silvert & Haffiny (1991). Reasons For Democracy in Society.
Joni T. Raba (1996). Cara Belajar Siswa aktif Implementasinya terhadap Pengajaran. Jakarta.



10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar